LAPORAN KELARUTAN
LABORATORIUM
FARMASI FISIKA
JURUSAN
FARMASI
POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
KELARUTAN
ADELYA (PO.713251141051)
AFDHAL (PO.713251141052)
ANCU
SUGIANTO (PO.713251141053)
ANITA
ULANDARI (PO.713251141055)
ARLIYANI (PO.713251141056)
ATIRA
OKTARINA (PO.713251141058)
AYU
HARTINA (PO.713251141059)
AYU
RAHMANIRAHIM (PO.713251141060)
EVA
IRIANA (PO.713251141061)
FITRIANI
HASMIN (PO.713251141062)
HAERUL (PO.713251141063)
KELOMPOK :
1
KELAS :
1B
HARI PRAKTIKUM :
JUMAT, 10.00-12.00
PEMBIMBING : ARISANTY. S.Si.,M.Si., Apt
MAKASSAR 2015
BAB
I
PENDAHULUAN
I.1
Latar Belakang
Dalam bidang farmasi, untuk memilih
medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat, akan membantu
mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan
farmasetik, dan lebih jauh lagi dapat bertindak sebagai standar atau uji
kemurnian. Pengetahuan yang lebih mendetail mengenai kelarutan dan sifat-sifat
yang berhubungan dengan itu juga memberikan informasi mengenai struktur obat
dan gaya antarmolekul obat. Selain itu, pelepasan zat dari bentuk sediaannya
sangat dipengaruhi oleh sifat kimia dan fisika zat tersebut serta
formulasinya.Pada prinsipnya obat baru dapat diabsorbsi setelah zat aktifnya
telarut dalam cairan usus, sehingga salah satu usaha untuk mempertinggi efek
farmakologi dari sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat
aktifnya.Kelarutan adalah kemampuan suatu zat telarut melarut pada suatu
pelarut. Kelarutan didefinisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi
zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperature tertentu, dan secara
kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat
untuk membentuk disperse molekular homogen. Kelarutan suatu senyawa bargantung
pada sifat fisika, dan kimia zat terlarut dan pelarut, juga bergantung pada
faktor temperatur, tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang kecil, bergantung
pada hal terbaginya zat terlarut.
Pada percobaan ini, akan ditentukan
kelarutan zat secara kuantitas, pengaruh pelarut campur yakni air, alkohol, dan
gliserin ; dan penambahan surfaktan yakni tween 80 terhadap kelarutan suatu zat
yakni Asam benzoat.
I.2 Maksud
Percobaan
Menentukan
kelarutan zat secara kuantitas dan pengaruh pelarut campuran antara air : etanol
: propilenglikol.
I.3 Tujuan Percobaan
1. Menentukan kelarutan suatu zat dari campuran
pelarut-pelarut air : etanol : propilenglikol.
2. Mengetahui
pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat asam benzoate.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
II.1
Teori
Secara
kuantitatif, kelarutan suatu zat dinyatakan sebagai konsentrasi zat terlarut
didalam larutan jenuhnya pada suhu dan tekanan tertentu. Kelarutan dinyatakan
dalam satuan mililiter pelarut yang dapat melarutkan satu gram zat. Misalnya 1
gram asam salisilat akan larut dalam 500 mL air. Kelarutan juga dinyatakan
dalam satuan molalitas, molaritas dan persen.
Pelepasan zat
aktif dari bentuk sediaannya sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat kimia dan
fisika zat tersebut serta formulasinya. Pada prinsinya obat baru dapat di
absorpsi setelah zat aktifnya terlarut dalam cairan usus, sehingga salah satu
usaha untuk mempertinggi efek Farmakologi dari sediaaan adalah dengan menaikkan
kelarutan zat aktifnya.
Kelarutan atau
solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut (solute),
untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah
maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Larutan hasil disebut larutan jenuh. Zat-zat tertentu
dapat larut dengan perbandingan apapun terhadap suatu pelarut. Contohnya adalah
etanol di dalam air. Sifat ini lebih dalam bahasa Inggris lebih tepatnya
disebut miscible. Pelarut umumnya merupakan suatu cairan yang dapat
berupa zat murni ataupun campuran. Zat yang terlarut, dapat berupa gas, cairan
lain, atau padat. Kelarutan bervariasi dari selalu larut seperti etanol dalam
air, hingga sulit terlarut, seperti perak klorida dalam air. Istilah "tak
larut" (insoluble) sering diterapkan pada senyawa yang sulit larut,
walaupun sebenarnya hanya ada sangat sedikit kasus yang benar-benar tidak ada
bahan yang terlarut. Dalam beberapa kondisi, titik kesetimbangan kelarutan
dapat dilampaui untuk menghasilkan suatu larutan yang disebut lewat jenuh (supersaturated)
yang metastabil.
Faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat antara lain adalah :
a.
pH
b.
Temperatur
c.
Jenis
pelarut
d.
Bentuk
dan ukuran partilel zat
e.
Konstanta
dielektrik pelarut
Fase
larutan dapat berwujud gas, padat ataupun cair. Larutan gas misalnya udara.
Larutan padat misalnya perunggu, amalgam dan paduan logam yang lain. Larutan
cair misalnya air laut, larutan gula dalam air, dan lain-lain. Komponen larutan
terdiri dari pelarut (solvent) dan zat terlarut (solute). Pada bagian ini
dibahas larutan cair. Pelarut cair umumnya adalah air. Pelarut cair yang lain
misalnya bensena, kloroform, eter, dan alkohol. Jika pelarutnya bukan air, maka
nama pelarutnya disebutkan. Misalnya larutan garam dalam alkohol disebut
larutan garam dalam alkohol (alkohol disebutkan), tetapi larutan garam dalam
air disebut larutan garam (air tidak disebutkan).
Zat
terlarut dapat berupa zat padat, gas atau cair. Zat padat terlarut dalam air
misalnya gula dan garam. Gas terlarut dalam air misalnya amonia, karbon
dioksida, dan oksigen. Zat cair terlarut dalam air misalnya alkohol dan cuka.
Umumnya komponen larutan yang jumlahnya lebih banyak disebut sebagai pelarut.
Larutan 40 % alkohol dengan 60 % air disebut larutan alkohol. Larutan 60 %
alkohol dengan 40 % air disebut larutan air dalam alkohol. Larutan 60 % gula
dengan 40 % air disebut larutan gula karena dalam larutan itu air terlihat
tidak berubah sedangkan gula berubah dari padatan (kristal) menjadi terlarut
(menyerupai air).
Sebutir
kristal gula pasir merupakan gabungan dari beberapa molekul gula. Jika kristal
gula itu dimasukkan ke dalam air, maka molekul-molekul gula akan memisah dari
permukaan kristal gula menuju ke dalam air (disebut melarut). Molekul gula itu
bergerak secara acak seperti gerakan molekul air, sehingga pada suatu saat
dapat menumbuk permukaan kristal gula atau molekul gula yang lain. Sebagian
molekul gula akan terikat kembali dengan kristalnya atau saling bergabung
dengan molekul gula yang lain sehingga kembali membentuk kristal (mengkristal
ulang). Jika laju pelarutan gula sama dengan laju pengkristalan ulang, maka
proses itu berada dalam kesetimbangan dan larutannya disebut jenuh.
Kristal gula
+ air ⇔ larutan
gula
Sifat
Larutan.
Sifat fisik
zat dapat dikelmpokkan dalam sifat koligatif, aditif dan konstitutif.
Dalam bidang termodinamika, sifat termodinamika dari sistem digolongkan,
dalam sifatekstensif, bergantung pada jumah zat dalam sistem
(misalnya massa dan volume) dan sifatintensif , yang tidak
bergantung jumlah zat dalam sistem (misalnya temperatur, tekanan kerapatan,
tegangan permukaan, dan viskositas dari cairan murni).
Sifat
koligatif terutama
bergantung pada jumlah partikel dalam larutan. Sifat koligatif larutan adalah
tekanan osmosis, penurunan tekanan uap, penurunan titik beku, dan kenaikan
titik didih. Harga sifat koligatif kira-kira sama untuk konsentrasi yang setara
dari berbagai zat nonelektrolit dalam larutan tanpa mengindahkan jenis atau
sifat kimiawi dari konstituen. Dalam menetapkan sifat koligatif dari larutan
zat padat dalam cairan, dianggap zat padat tidak menguap dan tekanan uap di
atas larutan seluruhnya berasal dari pelarut.
Sifat
Aditif bergantung
pada andil atom total dalam molekul atau pada jumlah sifat konstituen dalam
larutan. Contoh sifat aditif dari suatu senyawa adalah berat molekul, yaitu
jumlah massa atom konstituen. Massa dari komponen suatu larutan juga bersifat
aditif, massa total dari larutan adalah jumlah massa masing-masing komponen.
Sifat
Konstitutif bergantung
pada penyusunan dan untuk jumlah yang lebih sedikit, pada jenis dan jumlah atom
dalam suatu molekul. Sifat ini memberikan petunjuk terhadap aturan senyawa
tunggal, dan kelompok molekul dalam sistem. Banyak sifat fisik yang sebagian
aditif dan sebagian konstitutif. Pembiasan cahaya, sifat listrik, sifat
permukaan dan antarpermukaan dan kelarutan obat setidak-tidaknya sebagian
berupa sifat konstitutif dan sebagian sifat aditif.
Tipe
LarutanLarutan dapat
digolongkan sesuai dengan keadaan terjadinya zat terlarut dan pelarut, dan
karena tiga wujud zat (gas, cair, padat kristal), ada sembilan kemungkinan
sifat campuran homogen antara zat terlarut dan pelarut.
Larutan jenuh adalah suatu larutan
dimana zat terlarut berada dalam
Zat Terlarut
|
Pelarut
|
Contoh
|
Gas
|
Gas
|
Udara
|
Zat Cair
|
Gas
|
Air dalam oksigen
|
Zat Padat
|
Gas
|
Uap iodium dalam udara
|
Gas
|
Zat Cair
|
Air berkarbonat
|
Zat Cair
|
Zat Cair
|
Alakohol dalam air
|
Zat Padat
|
Zat Cair
|
Larutan NaCl dalam air
|
Gas
|
Zat Padat
|
Hidrogen dalam paladium
|
Zat Cair
|
Zat Padat
|
Minyak mineral dalam parafin
|
Zat Padat
|
Zat Padat
|
Campuran
emas-perak, campuran alum
|
kesetimbangan
dengan fase padat (zat terlarut).Larutan tidak jenuh atau hampir jenuh adalah
suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi di bawah
konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan sempurna pada temperatur
tertentu.Larutan lewat jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut
dalam konsentrasi lebih banyak daripada yang seharusnya ada pada temperatur
tertentu, terdapat juga zat terlarut yang tidak larut.
Disamping
itu, kelarutan adalah fungsi sebuah parameter molekul.Pengionan struktur dan
ukuran molekul stereokimia dan struktur elektronik. Semuanya akan mempengaruhi
antar aksi pelarut dan terlarut, seperti pada bagian terdahulu, air membentuk
ikatan hydrogen dengan ion atau dengan senyawa non ionik, sedangkan polar
melalui gugus –OH, -NH, atau dengan pasangan elektron tak mengikat pada atom
oksigen atau nitrogen. Ion atau molekul akan memperoleh sampel hidrat dan akan
memisah dari bongkahan zat padat dan artinya melarut.(Thomas Nagrady, 1992).
Kelarutan dalam Farmakope Indonesia,
diartikan dengan kelarutan pada suhu 200C (FI III) atau 250C
(FI IV) dinyatakan dalam satu bagian bobot zatpadat atau 1 bagian volume zat
cair dalam bagian volume tertentu pelarut, kecuali dinyatakan lain.
Kelarutan yang tanpa angka adalah
kelarutan pada suhu kamar (250C) pernyataan bagian dalam kelarutan
berarti bahwa 1 gram zat padat atau 1 mL zat cair dalam sejumlah mL pelarut.
Istilah
Kelarutan
|
Jumlah bagian
pelarut yang diperlukan untuk melarutkan 1 bagian zat
|
Sangat mudah
larut
|
Kurang dari 1
|
Mudah larut
|
1 – 10
|
Larut
|
10 – 30
|
Agak sukar
larut
|
30 – 100
|
Sukar larut
|
100 – 1.000
|
Sangat sukar
larut
|
1.000 – 10.000
|
Praktis tidak
larut
|
Lebih dari
10.000
|
Larutan yang mengandung zat terlarut dengan
konsentrasi maksimum sama dengan kelarutan yang disebut larutan jenuh. Pada
suatu larutan jenuh, zat terlarut berada dalamkesetimbangan antara fase padat
dengan ion-ionnya.
MX(s) M+(aq) +
X-(aq)
Karena reaksi merupakan kesetimbangan, maka dalam
suatu larutan jenuh terdapat suatu tetapan kesetimbangan yang disebut tetapan
hasil kali kesetimbangan (Ksp).
Penetapan blanko, jika dalam pengujian dikehendaki
penetapan blanko , dimadsudkan bahwa pengujian dilakukan dengan cara sama
menggunakan pereaksi yang sama dan jumlah sama.(Anonim, 1979)
11.
2 Uraian Bahan
1. Aquades (FI III : 96)
Nama Latin :Aqua Destillata
Sinonim :Air
Suling, H2O
Pemerian :Cairan
jenih ; tidak berwarna ; tidak berbau ; tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan ;Dalam
wadah tertutup baik
2. Asam
Benzoat(FI III :
49)
Nama
Latin :Acidum Benzoicum
Sinonim :Asam
benzoat
Pemerian :Hablur
halus dan ringan ; tidak berwarna ; tidak berbau
Kelarutan :Larut
dalam lebih kurang 350 bagian air, dalam lebih kurang 3 bagian etanol
(95%) P ; dalam 8 bagian kloroform P dan dalam 3
bagian eter P
Penyimpanan :Dalam
wadah tertutup baik
Khasiat :Antiseptikum
ekstern ; anti jamur
3. Alkohol (FI III : 65)
Nama Latin :Aethanolum
Sinonim :Etanol,
Alkohol
Pemerian :Cairan
tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak ; bau khas ;
rasa panas ; mudah terbakar ; dengan memberikan nyala biru yang tidak
berasap
Kelarutan :Sangat
mudah larut dalam air ; dalamkloroform P dan eter
P
Penyimpanan :Dalam
wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya ; di tempat sejuk ; jauh
dari nyala api.
Khasiat :Zat
tambahan
4. Propilenglikol
Nama
latin :Propylenglycolum
Sinonim :propilenglikol
Pemerian :cairan kental,jernih,tidak
berwarna,tidak berbau, rasa agak manis,higroskopik
KelarutaN :Dapat campur dengan air, dengan etanol
(95%) P dan dengan kloroform p, larut dalam 6 bagian eter P,
tidak dapat campur dengan eter minyak tanah p
dan dengan minyak lemak.
Penyimpanan :Dalam wadah tertutup baik
Khasiat : zat tambahan; pelarut.
5. NaOH
Nama
latin :Natrii Hydroxydum
Sinonim :Natrium Hidroksida
Pemerian :Mengandung tidak kurang dari 97,5% alkali
jumlah dihitung sebagai NaOH, dan tidak lebih dari 2,5 % Na2CO3
Pemerian :bentuk batang, butiran, massa hablur
atau keping, kering, keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur, putih, mudah
meleleh basah. Sangat alkalisdan korosif. Segera menyerap karbondioksida
Kelarutan :sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol(95%) p
Penyimpanan :Dalam wadah tertutup baik
Khasiat :zat tambahan.
6. Phenolptalein
Nama
latin :Penolphtaleein
Nama
lain :Fenolftalein
Pemerian :serbuk hablur putih, atau kekuningan
Kelarutan :sukar larutdalam air, larut dalam
etanol, agak sukar larut dalam eter
Penyimpanan :Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan :Larutanindicator
7. Kalium
Biftalat (FI Edisi III Hal 686)
Nama
Resmi : Kalium Hidrogenftalat
Nama
Lain : Kalium Biftalat
Rumus
Moleku : CO2H.C6H4.CO2K
Berat
Molekul : 204,2
Pemerian : Serbuk hablur, putih
Kelarutan : Larut perlahan-lahan dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Larutan baku primer
BAB III
METODE KERJA
III.1
Alat dan Bahan
1. Alat
a. Buret
b. Erlenmeyer
c. Pipet
Volume 10 Ml
d. Gelas
Ukur
e. Corong
f. Gelas
Beaker
g. Kertas
Saring
2. Bahan
a. Aquadest
b. Asam
Benzoat
c. Alcohol
d. Propilenglikol
e. Larutan
NaOH 0,1 N
f. Indicator
Phenolptalein
g. Kalium
Hidrogenftalat
III.2
Procedure Kerja
a. Buatlah
dan bakukan larutan baku NaOH 0,1 N
b. Buat
campuran pelarut-pelarut seperti yang tertera pada table berikut:
c. Larutkan
asam benzoat sedikit demi sedikit dalm masing-masing campuran pelarut sampa
diperoleh larutan yang jenuh.
d. ocok
larutan dengan orbital shaker selam 2 jam, jika ada endapan yang larut selama
pengocokan tambahkan lagi asam benzoat sampai didapat larutan yang jenuh
kembali.
e. Saring
larutan.
f. Pipet
10 mL larutan asam benzoat untuk menentukan kadar asam benzoat dengan cara
titrasi Alkalimetri.
g. Buat
grafik antara kelarutan asam benzoat dengan % pelarut yang ditambahkan.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1 Data Pengamatan
a. Pembuatan
larutan Baku dengan KHP
No.
|
Berat
KHP yang ditimbang
|
Pembacaan
skala buret
|
Volume
titrasi
|
|
Titik
awal
|
Titik akhir
|
|||
1.
|
0,210
mg
|
0
|
12
ml
|
12
ml
|
2.
|
0,200
mg
|
0
|
12,4
ml
|
12,4
ml
|
b. Kadar Asam Benzoat :
N
O
|
Konsentrasi
Pelarut (% V/V)
|
N
NaOH
|
Volume
Titrasi (mL)
|
Kadar
(gram)
|
||
Air
|
Etanol
|
propilenglikol
|
||||
1.
|
30
|
0
|
20
|
0,082
|
15,6
|
0,156
|
2.
|
30
|
2,5
|
17,5
|
0,082
|
15,8
|
0,158
|
3.
|
30
|
5
|
15
|
0,082
|
18,7
|
0,187
|
4.
|
30
|
10
|
12,5
|
0,082
|
18,5
|
0,185
|
5.
|
30
|
12,5
|
10
|
0,082
|
28,9
|
0,289
|
6.
|
30
|
15
|
5
|
0,082
|
26,5
|
0,265
|
7.
|
30
|
17,5
|
2,5
|
0,082
|
24
|
0,240
|
8.
|
30
|
20
|
0
|
0,082
|
34
|
0,340
|
IV.2 Pembahasan
Kelarutan
adalah suatu kemampuan suatu zat yang dapat larut dalam pelarut tertentu.Hasil
dari zat yang tersebut ini disebut larutan jenuh. Suatu zat yang akan mengalami
kelarutan harus disesuaikan dengan zat pelarut yang dapat melarutkan zat yang
akan dilarutkan. Pada keadaan ini, suhu dan ukuran permukaan sangat
berpengaruh, semakin tinggi suhu semakin cepat suatu zat akanlarut. Semakin
kecil luas permukaan, semakin cepat pula suatu zat itu larut.
Pada
percobaan ini, Asam Benzoat akan dilarutkan dalam volume air, alkohol dan
propilenglikol yang berbeda volume. Pada percobaan pertama, 30 ml air dan 20 ml
propilenglikol dicampurkan kemudian ditambahkan Asam Benzoat, semua campuran
itu dikocok selama dua jam hingga larutan jenuh dan timbul endapan, jika ada
endapan yang larut selama pengocokan tambahkan lagi asam benzoat sampai didapat
larutan yang jenuh kembali. Dilakukan juga dengan campuran :
1.
Asam Benzoat dan air 30 ml, 2,5 ml
alkohol dan 17,5 mlpropilenglikol.
2.
Asam Benzoat dan air 30 ml, 5 ml alkohol
dan 15 ml propilenglikol.
3.
Asam Benzoat dan air 30 ml, 10 ml alkohol
dan 12,5 ml propilenglikol.
4.
Asam Benzoat dan air 30 ml, 12,5 ml
alkohol dan 10 ml propilenglikol.
5.
Asam Benzoat dan air 30 ml, 15 ml
alkohol dan 5 ml propilenglikol.
6.
Asam Benzoat dan air 30 ml, 17,5 ml
alkohol dan 2,5 ml propilenglikol.
7.
Asam Benzoat dan air 30 ml, 20 ml
alkohol dan 0 ml propilenglikol.
Sebelum
dilakukan titrasi Asam Benzoat, lakukan pembakuan NaOH terlebih dahulu, dengan
mentitrasi KHP 210 mg ditambahkan dengan 10 ml air dan 2 tetes phenofthalien.
Pembakuan dilakukan selama dua kali dengan KHP 200 mg.
Setelah
delapan campuran diatas dikocok selama 2 jam, kemudian disaring dan dilakukan
titrasi dengan NaOH, masing-masing campuran ditambahkan dengan 2-3 tetes
indikator phenofthalien sampai terjadi perubahan warna merah muda. Pada titik
ekivalen atau perubahan warna dititik akhir titrasi sangat penting untuk
diperhatikan, jika sudah timbul perubahan warna, titrasi harus segera
dihentikan, jika tidak, pH dalam larutan tersebut akan berubah dan melampaui pH
yang seharusnya. Dan dari praktikum ini, perbandingan antara campuran kelarutan
air: etanol : propilenglikol yang paling berpengaruh yaitu banyaknya etanol
yang ditambahkan. Karna, semakin besar konsentrasi pelarut yang di uji cobakan
maka semakin tinggi pula volume titrasi yang didiperoleh sehingga menghasilkan
kadar yang tinggi pula.
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Dari
data pengamatan dan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
Semakin banyak % alkohol
dan 0% propilenglikol dengan % air yang konstan maka konsentrasi Asam benzoat
semakin banyak.Namun sebaliknya, jika semakin banyak % propilenglikol dan 0%
alkohol dengan % air yang konstan maka konsentrasi Asam benzoat semakin sedikit
atau berkurang. Jadi,
pelarut campur sangat mempengaruhi kelarutan suatu zat.
V.2 Saran
Sebaiknya
dalam melakukan praktikum, praktikan harus lebih teliti dalam penambahan
larutan pp dan melakukan titrasi.
DAFTAR PUSTAKA
Anief. Moh, 2007, Farmasetika, UGM Press, Jakarta
Atkins' Physical Chemistry, 7th Ed. by Julio De
Paula, P.W. Atkins
Diaskes 27 Maret
2015 Pukul. 20 : 00 WIB
http://ahmad-my-farmasi07.blogspot.com/2009/09/laporan-kelarutan-farfis.htmlDiaskes 27 Maret
2015 Pukul. 20 : 00 WIB
Diaskes 27 Maret
2015 Pukul. 20 : 00 WIB
Martin, A., (1990), “Farmasi Fisika”, Buku I, UI
Press, Jakarta.
Martin. A, 1991, Farmasi Fisika Jilid 1, Universitas
Indonesia Press, Jakarta
Rusdiaman,
dkk . 2015. Penuntun Praktikum Farmasi
Fisika. D III Farmasi, Politeknik Kemenkes Makassar.
Tungadi,
Robert. (2009).“Penuntun Praktikum Farmasi Fisika“. Jurusan Farmasi Universitas
Negeri Gorontalo. Gorontalo
Voight, R. 1994. Teknologi Farmasi. Yogyakarta: UGM
press
LAMPIRAN
A. Grafik
Gambar kurva titrasi:



Keterangan:
A= Asam Benzoat 1 B= Asam Benzoat 2
C= Asam Benzoat 3 D= Asam Benzoat 4
E= Asam Benzoat 5 F= Asam Benzoat 6
G= Asam Benzoat 7 H= Asam Benzoat 8
VI.2 Perhitungan bahan :
1. Pembakuan
Larutan Baku NaOH 0,1 N
Untuk 1 x Titrasi :
PB: Mg =
V. N. BE
= 10 ml. 0,1 N. 204,23
=
204,23 mg
=
0,204 g
2. Pembakuan NaOH
Pembakuan NaOH dengan KHP 1 = 210,00 mg
KHP 2 = 200,00
mg
BE KHP 204,23
mg
N NaOH = 
a. N NaOH =
=
= 0,0856
N
b. N NaOH =
=
= 0,0789
N
∑ N NaOH =
=
= 0,08225
N
3. Perhitungan kadar Asam Benzoat
Rumus:
Mg As.Benzoat = N NaOH x V Titrasi x
BE As. Benzoat
1) Mg As.Benzoat = 0,082 x 15,6 ml x
122,12 = 156,215mg= 0,156g
2) Mg As.Benzoat = 0,082 x 15,8 ml x
122,12 = 158,218mg= 0,158g
3) Mg As.Benzoat = 0,082 x 18,7 ml x
122,12 = 187,258mg= 0,187g
4) Mg As.Benzoat = 0,082 x 18,5 ml x
122,12 = 185,256mg= 0,185g
5) Mg As.Benzoat = 0,082 x 28,9 ml x
122,12 = 289,399mg=0,289g
6) Mg As.Benzoat = 0,082 x 26,5 ml x
122,12 = 265,366mg=0,265g
7) Mg As.Benzoat = 0,082 x 24,0 ml x
122,12 = 240,332mg=0,240g
8) Mg As.Benzoat = 0,082 x 34,0 ml x
122,12 = 340,470mg=0,340g

2 Komentar:
Min daftar pustaka nya kepotong jadi kurang jelas
Terimakasih 😊
MAAF BARU LIAT BLOG,
DAFTAR PUSTAKA YANG MANA?
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda