Sabtu, 09 Mei 2015

LAPORAN KELARUTAN


LABORATORIUM FARMASI FISIKA
JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
KELARUTAN

ADELYA                                                   (PO.713251141051)
AFDHAL                                                   (PO.713251141052)
ANCU SUGIANTO                                   (PO.713251141053)
ANITA ULANDARI                                  (PO.713251141055)
ARLIYANI                                                (PO.713251141056)
ASMIAH                                                   (PO.713251141057)
ATIRA OKTARINA                                  (PO.713251141058)
AYU HARTINA                                        (PO.713251141059)
AYU RAHMANIRAHIM                          (PO.713251141060)
EVA IRIANA                                            (PO.713251141061)
FITRIANI HASMIN                                  (PO.713251141062)
HAERUL                                                   (PO.713251141063)

KELOMPOK                                             : 1
KELAS                                                      : 1B
HARI PRAKTIKUM                                  : JUMAT, 10.00-12.00
PEMBIMBING                                          : ARISANTY. S.Si.,M.Si., Apt

MAKASSAR 2015

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam bidang farmasi, untuk memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat, akan membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetik, dan lebih jauh lagi dapat bertindak sebagai standar atau uji kemurnian. Pengetahuan yang lebih mendetail mengenai kelarutan dan sifat-sifat yang berhubungan dengan itu juga memberikan informasi mengenai struktur obat dan gaya antarmolekul obat. Selain itu, pelepasan zat dari bentuk sediaannya sangat dipengaruhi oleh sifat kimia dan fisika zat tersebut serta formulasinya.Pada prinsipnya obat baru dapat diabsorbsi setelah zat aktifnya telarut dalam cairan usus, sehingga salah satu usaha untuk mempertinggi efek farmakologi dari sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya.Kelarutan adalah kemampuan suatu zat telarut melarut pada suatu pelarut. Kelarutan didefinisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperature tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk disperse molekular homogen. Kelarutan suatu senyawa bargantung pada sifat fisika, dan kimia zat terlarut dan pelarut, juga bergantung pada faktor temperatur, tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut.
Pada percobaan ini, akan ditentukan kelarutan zat secara kuantitas, pengaruh pelarut campur yakni air, alkohol, dan gliserin ; dan penambahan surfaktan yakni tween 80 terhadap kelarutan suatu zat yakni Asam benzoat.
I.2  Maksud Percobaan
Menentukan kelarutan zat secara kuantitas dan  pengaruh pelarut campuran antara air : etanol : propilenglikol.
I.3 Tujuan Percobaan
1.      Menentukan kelarutan suatu zat dari campuran pelarut-pelarut air : etanol : propilenglikol.
2.      Mengetahui pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat asam benzoate.









BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori
Secara kuantitatif, kelarutan suatu zat dinyatakan sebagai konsentrasi zat terlarut didalam larutan jenuhnya pada suhu dan tekanan tertentu. Kelarutan dinyatakan dalam satuan mililiter pelarut yang dapat melarutkan satu gram zat. Misalnya 1 gram asam salisilat akan larut dalam 500 mL air. Kelarutan juga dinyatakan dalam satuan molalitas, molaritas dan persen.
Pelepasan zat aktif dari bentuk sediaannya sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat kimia dan fisika zat tersebut serta formulasinya. Pada prinsinya obat baru dapat di absorpsi setelah zat aktifnya terlarut dalam cairan usus, sehingga salah satu usaha untuk mempertinggi efek Farmakologi dari sediaaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya.
Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Larutan hasil disebut larutan jenuh. Zat-zat tertentu dapat larut dengan perbandingan apapun terhadap suatu pelarut. Contohnya adalah etanol di dalam air. Sifat ini lebih dalam bahasa Inggris lebih tepatnya disebut miscible. Pelarut umumnya merupakan suatu cairan yang dapat berupa zat murni ataupun campuran. Zat yang terlarut, dapat berupa gas, cairan lain, atau padat. Kelarutan bervariasi dari selalu larut seperti etanol dalam air, hingga sulit terlarut, seperti perak klorida dalam air. Istilah "tak larut" (insoluble) sering diterapkan pada senyawa yang sulit larut, walaupun sebenarnya hanya ada sangat sedikit kasus yang benar-benar tidak ada bahan yang terlarut. Dalam beberapa kondisi, titik kesetimbangan kelarutan dapat dilampaui untuk menghasilkan suatu larutan yang disebut lewat jenuh (supersaturated) yang metastabil.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat antara lain adalah :
a.       pH
b.      Temperatur
c.       Jenis pelarut
d.      Bentuk dan ukuran partilel zat
e.       Konstanta dielektrik pelarut
Fase larutan dapat berwujud gas, padat ataupun cair. Larutan gas misalnya udara. Larutan padat misalnya perunggu, amalgam dan paduan logam yang lain. Larutan cair misalnya air laut, larutan gula dalam air, dan lain-lain. Komponen larutan terdiri dari pelarut (solvent) dan zat terlarut (solute). Pada bagian ini dibahas larutan cair. Pelarut cair umumnya adalah air. Pelarut cair yang lain misalnya bensena, kloroform, eter, dan alkohol. Jika pelarutnya bukan air, maka nama pelarutnya disebutkan. Misalnya larutan garam dalam alkohol disebut larutan garam dalam alkohol (alkohol disebutkan), tetapi larutan garam dalam air disebut larutan garam (air tidak disebutkan).
Zat terlarut dapat berupa zat padat, gas atau cair. Zat padat terlarut dalam air misalnya gula dan garam. Gas terlarut dalam air misalnya amonia, karbon dioksida, dan oksigen. Zat cair terlarut dalam air misalnya alkohol dan cuka. Umumnya komponen larutan yang jumlahnya lebih banyak disebut sebagai pelarut. Larutan 40 % alkohol dengan 60 % air disebut larutan alkohol. Larutan 60 % alkohol dengan 40 % air disebut larutan air dalam alkohol. Larutan 60 % gula dengan 40 % air disebut larutan gula karena dalam larutan itu air terlihat tidak berubah sedangkan gula berubah dari padatan (kristal) menjadi terlarut (menyerupai air).
Sebutir kristal gula pasir merupakan gabungan dari beberapa molekul gula. Jika kristal gula itu dimasukkan ke dalam air, maka molekul-molekul gula akan memisah dari permukaan kristal gula menuju ke dalam air (disebut melarut). Molekul gula itu bergerak secara acak seperti gerakan molekul air, sehingga pada suatu saat dapat menumbuk permukaan kristal gula atau molekul gula yang lain. Sebagian molekul gula akan terikat kembali dengan kristalnya atau saling bergabung dengan molekul gula yang lain sehingga kembali membentuk kristal (mengkristal ulang). Jika laju pelarutan gula sama dengan laju pengkristalan ulang, maka proses itu berada dalam kesetimbangan dan larutannya disebut jenuh.
Kristal gula + air  larutan gula
Sifat Larutan.
Sifat fisik zat dapat dikelmpokkan dalam sifat koligatif, aditif dan konstitutif. Dalam bidang termodinamika, sifat termodinamika dari sistem digolongkan, dalam sifatekstensif, bergantung pada jumah zat dalam sistem (misalnya massa dan volume) dan sifatintensif , yang tidak bergantung jumlah zat dalam sistem (misalnya temperatur, tekanan kerapatan, tegangan permukaan, dan viskositas dari cairan murni).
Sifat koligatif terutama bergantung pada jumlah partikel dalam larutan. Sifat koligatif larutan adalah tekanan osmosis, penurunan tekanan uap, penurunan titik beku, dan kenaikan titik didih. Harga sifat koligatif kira-kira sama untuk konsentrasi yang setara dari berbagai zat nonelektrolit dalam larutan tanpa mengindahkan jenis atau sifat kimiawi dari konstituen. Dalam menetapkan sifat koligatif dari larutan zat padat dalam cairan, dianggap zat padat tidak menguap dan tekanan uap di atas larutan seluruhnya berasal dari pelarut.
Sifat Aditif bergantung pada andil atom total dalam molekul atau pada jumlah sifat konstituen dalam larutan. Contoh sifat aditif dari suatu senyawa adalah berat molekul, yaitu jumlah massa atom konstituen. Massa dari komponen suatu larutan juga bersifat aditif, massa total dari larutan adalah jumlah massa masing-masing komponen.
Sifat Konstitutif bergantung pada penyusunan dan untuk jumlah yang lebih sedikit, pada jenis dan jumlah atom dalam suatu molekul. Sifat ini memberikan petunjuk terhadap aturan senyawa tunggal, dan kelompok molekul dalam sistem. Banyak sifat fisik yang sebagian aditif dan sebagian konstitutif. Pembiasan cahaya, sifat listrik, sifat permukaan dan antarpermukaan dan kelarutan obat setidak-tidaknya sebagian berupa sifat konstitutif dan sebagian sifat aditif.
Tipe LarutanLarutan dapat digolongkan sesuai dengan keadaan terjadinya zat terlarut dan pelarut, dan karena tiga wujud zat (gas, cair, padat kristal), ada sembilan kemungkinan sifat campuran homogen antara zat terlarut dan pelarut.
Larutan jenuh adalah suatu larutan dimana zat terlarut berada dalam
Zat Terlarut
Pelarut
Contoh
Gas
Gas
Udara
Zat Cair
Gas
Air dalam oksigen
Zat Padat
Gas
Uap iodium dalam udara
Gas
Zat Cair
Air berkarbonat
Zat Cair
Zat Cair
Alakohol dalam air
Zat Padat
Zat Cair
Larutan NaCl dalam air
Gas
Zat Padat
Hidrogen dalam paladium
Zat Cair
Zat Padat
Minyak mineral dalam parafin
Zat Padat
Zat Padat
Campuran emas-perak, campuran alum
kesetimbangan dengan fase padat (zat terlarut).Larutan tidak jenuh atau hampir jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi di bawah konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan sempurna pada temperatur tertentu.Larutan lewat jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi lebih banyak daripada yang seharusnya ada pada temperatur tertentu, terdapat juga zat terlarut yang tidak larut.
Disamping itu, kelarutan adalah fungsi sebuah parameter molekul.Pengionan struktur dan ukuran molekul stereokimia dan struktur elektronik. Semuanya akan mempengaruhi antar aksi pelarut dan terlarut, seperti pada bagian terdahulu, air membentuk ikatan hydrogen dengan ion atau dengan senyawa non ionik, sedangkan polar melalui gugus –OH, -NH, atau dengan pasangan elektron tak mengikat pada atom oksigen atau nitrogen. Ion atau molekul akan memperoleh sampel hidrat dan akan memisah dari bongkahan zat padat dan artinya melarut.(Thomas Nagrady, 1992).
Kelarutan dalam Farmakope Indonesia, diartikan dengan kelarutan pada suhu 200C (FI III) atau 250C (FI IV) dinyatakan dalam satu bagian bobot zatpadat atau 1 bagian volume zat cair dalam bagian volume tertentu pelarut, kecuali dinyatakan lain.
Kelarutan yang tanpa angka adalah kelarutan pada suhu kamar (250C) pernyataan bagian dalam kelarutan berarti bahwa 1 gram zat padat atau 1 mL zat cair dalam sejumlah mL pelarut.
Istilah Kelarutan
Jumlah bagian pelarut yang diperlukan untuk melarutkan 1 bagian zat
Sangat mudah larut
Kurang dari 1
Mudah larut
1 – 10
Larut
10 – 30
Agak sukar larut
30 – 100
Sukar larut
100 – 1.000
Sangat sukar larut
1.000 – 10.000
Praktis tidak larut
Lebih dari 10.000
Larutan yang mengandung zat terlarut dengan konsentrasi maksimum sama dengan kelarutan yang disebut larutan jenuh. Pada suatu larutan jenuh, zat terlarut berada dalamkesetimbangan antara fase padat dengan ion-ionnya.
MX(s)  M+(aq) + X-(aq)
Karena reaksi merupakan kesetimbangan, maka dalam suatu larutan jenuh terdapat suatu tetapan kesetimbangan yang disebut tetapan hasil kali kesetimbangan (Ksp).
Penetapan blanko, jika dalam pengujian dikehendaki penetapan blanko , dimadsudkan bahwa pengujian dilakukan dengan cara sama menggunakan pereaksi yang sama dan jumlah sama.(Anonim, 1979)
11. 2 Uraian Bahan
1.      Aquades (FI III : 96)
Nama Latin        :Aqua Destillata
Sinonim           :Air Suling, H2O
Pemerian           :Cairan jenih ; tidak berwarna ; tidak berbau ; tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan    ;Dalam wadah tertutup baik
2.      Asam Benzoat(FI III : 49)
Nama Latin     :Acidum Benzoicum
Sinonim           :Asam benzoat
Pemerian         :Hablur halus dan ringan ; tidak berwarna ; tidak berbau
Kelarutan          :Larut dalam lebih kurang 350 bagian air, dalam lebih kurang 3 bagian etanol (95%) P ; dalam 8 bagian kloroform P dan dalam 3 bagian eter P
Penyimpanan   :Dalam wadah tertutup baik
Khasiat            :Antiseptikum ekstern ; anti jamur
3.      Alkohol (FI III : 65)
Nama Latin     :Aethanolum
Sinonim           :Etanol, Alkohol
Pemerian         :Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak ; bau khas ; rasa panas ; mudah terbakar ; dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap
Kelarutan        :Sangat mudah larut dalam air ; dalamkloroform  dan eter P
Penyimpanan   :Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya ; di tempat sejuk ; jauh dari nyala api.
Khasiat            :Zat tambahan
4.      Propilenglikol
Nama latin       :Propylenglycolum
Sinonim           :propilenglikol
Pemerian         :cairan kental,jernih,tidak berwarna,tidak berbau, rasa agak manis,higroskopik
KelarutaN       :Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P dan dengan kloroform p, larut dalam 6 bagian eter  P, tidak dapat campur dengan eter minyak tanah p dan dengan minyak lemak.
Penyimpanan   :Dalam wadah tertutup baik
Khasiat            : zat tambahan; pelarut.
5.      NaOH
Nama latin       :Natrii Hydroxydum
Sinonim           :Natrium Hidroksida
Pemerian         :Mengandung tidak kurang dari 97,5% alkali jumlah dihitung sebagai NaOH, dan tidak lebih dari 2,5 % Na2CO3
Pemerian         :bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering, keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur, putih, mudah meleleh basah. Sangat alkalisdan korosif. Segera menyerap karbondioksida
Kelarutan        :sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol(95%) p
Penyimpanan   :Dalam wadah tertutup baik
Khasiat            :zat tambahan.
6.      Phenolptalein
Nama latin       :Penolphtaleein
Nama lain        :Fenolftalein
Pemerian         :serbuk hablur putih, atau kekuningan
Kelarutan        :sukar larutdalam air, larut dalam etanol, agak sukar larut dalam eter
Penyimpanan   :Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan        :Larutanindicator
7.      Kalium Biftalat (FI Edisi III Hal 686)
Nama Resmi                :   Kalium Hidrogenftalat
Nama Lain                  :   Kalium Biftalat
Rumus Moleku            :   CO2H.C6H4.CO2K
Berat Molekul             :   204,2
Pemerian                     :   Serbuk hablur, putih
Kelarutan                    :   Larut perlahan-lahan dalam air
Penyimpanan               :   Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan                    :   Larutan baku primer




BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
1.      Alat
a.       Buret
b.      Erlenmeyer
c.       Pipet Volume 10 Ml
d.      Gelas Ukur
e.       Corong
f.       Gelas Beaker
g.      Kertas Saring
2.    Bahan
a.       Aquadest
b.      Asam Benzoat
c.       Alcohol
d.      Propilenglikol
e.       Larutan NaOH 0,1 N
f.       Indicator Phenolptalein
g.      Kalium Hidrogenftalat
III.2 Procedure Kerja
a.       Buatlah dan bakukan larutan baku NaOH 0,1 N
b.      Buat campuran pelarut-pelarut seperti yang tertera pada table berikut:
c.       Larutkan asam benzoat sedikit demi sedikit dalm masing-masing campuran pelarut sampa diperoleh larutan yang jenuh.
d.      ocok larutan dengan orbital shaker selam 2 jam, jika ada endapan yang larut selama pengocokan tambahkan lagi asam benzoat sampai didapat larutan yang jenuh kembali.
e.       Saring larutan.
f.       Pipet 10 mL larutan asam benzoat untuk menentukan kadar asam benzoat dengan cara titrasi Alkalimetri.
g.      Buat grafik antara kelarutan asam benzoat dengan % pelarut yang ditambahkan.















BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1 Data Pengamatan
a.       Pembuatan larutan Baku dengan KHP
No.

Berat KHP yang ditimbang
Pembacaan skala buret
Volume titrasi

Titik awal
Titik akhir
1.
0,210 mg
0
12 ml
12 ml
2.
0,200 mg
0
12,4 ml
12,4 ml

b.      Kadar Asam Benzoat :
N
O
Konsentrasi Pelarut (% V/V)
N NaOH
Volume Titrasi (mL)
Kadar (gram)
Air
Etanol
propilenglikol
1.
30
0
20
0,082
15,6
0,156
2.
30
2,5
17,5
0,082
15,8
0,158
3.
30
5
15
0,082
18,7
0,187
4.
30
10
12,5
0,082
18,5
0,185
5.
30
12,5
10
0,082
28,9
0,289
6.
30
15
5
0,082
26,5
0,265
7.
30
17,5
2,5
0,082
24
0,240
8.
30
20
0
0,082
34
0,340

IV.2 Pembahasan
Kelarutan adalah suatu kemampuan suatu zat yang dapat larut dalam pelarut tertentu.Hasil dari zat yang tersebut ini disebut larutan jenuh. Suatu zat yang akan mengalami kelarutan harus disesuaikan dengan zat pelarut yang dapat melarutkan zat yang akan dilarutkan. Pada keadaan ini, suhu dan ukuran permukaan sangat berpengaruh, semakin tinggi suhu semakin cepat suatu zat akanlarut. Semakin kecil luas permukaan, semakin cepat pula suatu zat itu larut.
Pada percobaan ini, Asam Benzoat akan dilarutkan dalam volume air, alkohol dan propilenglikol yang berbeda volume. Pada percobaan pertama, 30 ml air dan 20 ml propilenglikol dicampurkan kemudian ditambahkan Asam Benzoat, semua campuran itu dikocok selama dua jam hingga larutan jenuh dan timbul endapan, jika ada endapan yang larut selama pengocokan tambahkan lagi asam benzoat sampai didapat larutan yang jenuh kembali. Dilakukan juga dengan campuran :
1.    Asam Benzoat dan air 30 ml, 2,5 ml alkohol dan 17,5 mlpropilenglikol.
2.    Asam Benzoat dan air 30 ml, 5 ml alkohol dan 15 ml propilenglikol.
3.    Asam Benzoat dan air 30 ml, 10 ml alkohol dan 12,5 ml propilenglikol.
4.    Asam Benzoat dan air 30 ml, 12,5 ml alkohol dan 10 ml propilenglikol.
5.    Asam Benzoat dan air 30 ml, 15 ml alkohol dan 5 ml propilenglikol.
6.    Asam Benzoat dan air 30 ml, 17,5 ml alkohol dan 2,5 ml propilenglikol.
7.    Asam Benzoat dan air 30 ml, 20 ml alkohol dan 0 ml propilenglikol.
     Sebelum dilakukan titrasi Asam Benzoat, lakukan pembakuan NaOH terlebih dahulu, dengan mentitrasi KHP 210 mg ditambahkan dengan 10 ml air dan 2 tetes phenofthalien. Pembakuan dilakukan selama dua kali dengan KHP 200 mg.
     Setelah delapan campuran diatas dikocok selama 2 jam, kemudian disaring dan dilakukan titrasi dengan NaOH, masing-masing campuran ditambahkan dengan 2-3 tetes indikator phenofthalien sampai terjadi perubahan warna merah muda. Pada titik ekivalen atau perubahan warna dititik akhir titrasi sangat penting untuk diperhatikan, jika sudah timbul perubahan warna, titrasi harus segera dihentikan, jika tidak, pH dalam larutan tersebut akan berubah dan melampaui pH yang seharusnya. Dan dari praktikum ini, perbandingan antara campuran kelarutan air: etanol : propilenglikol yang paling berpengaruh yaitu banyaknya etanol yang ditambahkan. Karna, semakin besar konsentrasi pelarut yang di uji cobakan maka semakin tinggi pula volume titrasi yang didiperoleh sehingga menghasilkan kadar yang tinggi pula.







BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Dari data pengamatan dan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
Semakin banyak % alkohol dan 0% propilenglikol dengan % air yang konstan maka konsentrasi Asam benzoat semakin banyak.Namun sebaliknya, jika semakin banyak % propilenglikol dan 0% alkohol dengan % air yang konstan maka konsentrasi Asam benzoat semakin sedikit atau berkurang. Jadi, pelarut campur sangat mempengaruhi kelarutan suatu zat.
V.2 Saran
Sebaiknya dalam melakukan praktikum, praktikan harus lebih teliti dalam penambahan larutan pp dan melakukan titrasi.










DAFTAR PUSTAKA

Anief. Moh, 2007, Farmasetika, UGM Press, Jakarta
Atkins' Physical Chemistry, 7th Ed. by Julio De Paula, P.W. Atkins
Diaskes  27 Maret  2015 Pukul. 20 : 00 WIB


Diaskes  27 Maret  2015 Pukul. 20 : 00 WIB

Martin, A., (1990), “Farmasi Fisika”, Buku I, UI Press, Jakarta.
Martin. A, 1991, Farmasi Fisika Jilid 1, Universitas Indonesia Press, Jakarta
Rusdiaman, dkk . 2015. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. D III Farmasi, Politeknik Kemenkes Makassar.

Tungadi, Robert. (2009).“Penuntun Praktikum Farmasi Fisika“. Jurusan Farmasi Universitas Negeri Gorontalo. Gorontalo

Voight, R. 1994. Teknologi Farmasi. Yogyakarta: UGM press









LAMPIRAN
A.    Grafik
Gambar kurva titrasi:
Kadar (gram)
           0,340   
           0,289
           0,265
           0,240
           0,187
           0,185
           0,158
           0,156
                        A         B         C         D         E          F          G         H        
Keterangan:
A= Asam Benzoat 1                           B= Asam Benzoat 2
C= Asam Benzoat 3                            D= Asam Benzoat 4
E= Asam Benzoat 5                            F= Asam Benzoat 6
G= Asam Benzoat 7                           H= Asam Benzoat 8
VI.2 Perhitungan bahan :
1.      Pembakuan Larutan Baku NaOH 0,1 N
Untuk 1 x Titrasi :
PB:         Mg       = V. N. BE
               = 10 ml. 0,1 N. 204,23
            = 204,23 mg
            = 0,204 g
2.      Pembakuan NaOH
Pembakuan NaOH dengan KHP 1 =                            210,00 mg
                                            KHP 2 =                          200,00 mg
BE KHP                                                                      204,23 mg
N NaOH         =  
a.  N NaOH               =            = 0,0856 N  
b. N NaOH            = =           = 0,0789 N  
∑ N NaOH      =   = = 0,08225 N  
3.      Perhitungan kadar Asam Benzoat
Rumus:
Mg As.Benzoat = N NaOH x V Titrasi x BE As. Benzoat
1)    Mg As.Benzoat = 0,082 x 15,6 ml x 122,12 = 156,215mg= 0,156g
2)    Mg As.Benzoat = 0,082 x 15,8 ml x 122,12 = 158,218mg= 0,158g
3)    Mg As.Benzoat = 0,082 x 18,7 ml x 122,12 = 187,258mg= 0,187g
4)    Mg As.Benzoat = 0,082 x 18,5 ml x 122,12 = 185,256mg= 0,185g
5)    Mg As.Benzoat = 0,082 x 28,9 ml x 122,12 = 289,399mg=0,289g
6)    Mg As.Benzoat = 0,082 x 26,5 ml x 122,12 = 265,366mg=0,265g
7)    Mg As.Benzoat = 0,082 x 24,0 ml x 122,12 = 240,332mg=0,240g
8)    Mg As.Benzoat = 0,082 x 34,0 ml x 122,12 = 340,470mg=0,340g

2 Komentar:

Pada 1 November 2018 pukul 03.58 , Blogger PUTRI OPUSUNGGU mengatakan...

Min daftar pustaka nya kepotong jadi kurang jelas
Terimakasih 😊

 
Pada 4 Agustus 2019 pukul 08.26 , Blogger ancu sugianto mengatakan...

MAAF BARU LIAT BLOG,
DAFTAR PUSTAKA YANG MANA?

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda