Senin, 18 Mei 2015

sterilisasi



BAB I
PENDAHULUAN
I.1        Latar Belakang
Sterilisasi adalah suatu proses dimana kegiatan ini bertujuan untuk membebaskan alat ataupun bahan dari berbagai macam mikroorganisme. Suatu bahan bisa dikatakan steril apabila bebas dari mikroorganisme hidup yang patogen maupun tidak baik dalam bentuk vegetatip walaupun bentuk nonvegetatip (spora).Sterilkan merupakan kegiatan  membebaskan  bahan dan alat dari semua organisme hidup. Cara mensterilkan media yang paling umum dilakukan yairu dengan perlakuan panas lembab dan kering bergantung pada macam-macam bahan yang akan disterilkan.  Sterilisasi dapat pula dilakukan dengan perlakuan panas kering, kimia, penyaringan, atau radiasi (Anonim, 2011).
Ada beberapa cara yang sering dilakukan dalam sterilisasi, antara lain sterilisasi secara fisik, kimia, dan mekanik. Sterilisasi secara fisik dipakai bila selama sterilisasi dengan bahan kimia tidak akan berubah akibat temperatur tinggi atau tekanan tinggi. Cara membunuh mikroorganisme tersebut adalah dengan panas. Panas kering membunuh bakteri karena oksidasi komponen-komponen sel.(Volk, 1993).
I.2        Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1     Maksud Percobaan
Adapun maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara sterilisasi alat dengan metode sterilisasi kering.
I.2.2     Tujuan Percobaan
Tujuannya adalah agar praktikan dapat melakukan sterilisasi alat dengan metode kering.
I.3        Prinsip Percobaan
Alat yang digunakan dicuci bersih, dikeringkan, dibungkus kemudian disterilkan menggunakan oven pada suhu 160 – 180 oC selama 2 jam.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1      Landasan teori
Adanya pertumbuhan mikroorganisme menunjukkan bahwa pertumbuhan bakteri masih berlangsung dan tidak sempurnanya proses sterilisasi. Jika sterilisasi berlangsung sempurna, maka spora bakteri yang merupakan bentuk paling resisten dari kehidupan mikroba, akan diluluhkan (Lay, 1992).
Biakan murni diperlukan karena semua metode mikrobiologis yang digunakan untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroba, termasuk penelaahan ciri-ciri kultur, morfologis, fisiologis, maupun serologis memerlukan suatu populasi yang terdiri dari satu macam mikroba saja (Lim, 1998).
Adanya hal tersebut maka perlu dilakukan tahapan penting yaitu sterilisasi, karena sterilisasi ini akan membantu untuk membebaskan medium pertumbuhan mikroba atau peralatan yang digunakan dari segala bentuk kehidupan, sehingga lebih mudah dalam melakukan isolasi terhadap mikroba dan tidak  terkontaminasi.
Sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa:
a.              Sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). Dengan udara panas, dipergunakan alat “bejana/ruang panas” (oven dengan temperatur 170o – 180oC dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas).
b.             Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan alkohol, larutan formalin).
c.              Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan misalnya adalah dengan saringan/filter. Sistem kerja filter, seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba) (Suriawiria, 2005).
d.             Sterilisasi dengan panas lembab
Sterilisasi dengan panas lembab biasanya dilakukan di dalam suatu bejana logam yang disebut autoklaf.Sterilisasi ini dilakukan dengan uap air jenuh bertekanan 15 Ib/in2 selama 15 menit pada suhu 121°C. Suhu tersebut merupakan suhu sterilisasi terbaik untuk bahan-bahan yang akan disimpan dalam waktu yang cukup lama. Hubungan antara tekanan dan suhu tersebut hanya berlaku bagi tempat-tempat pada permukaan laut. Untuk tempat-tempat di atas permukaan laut diperlukan tekanan yang lebih tinggi untuk mencapai suhu yang sama.
          Autoklaf pada umumnya digunakan untuk mensterilkan bahan-bahan yang dapat ditembus oleh kelembapan (tidak menolak air) tanpa merusaknya.Contoh bahan yang dapat disterilkan dengan autokaf ialah media biakan, larutan, kapas, sumbar karet, dan peralatan laboratorium. Kontak langsung antara uap air dan benda yang akan disterilkan amat penting bagi keberhasilan sterilisasi. Penataan muatan di dalam autoklaf harus agak longgar sehingga memungkinkan tekanan uap air menembus ke seluruh bahan-bahan yang disterilkan tersebut.Pengaruh panas lembab di dalam proses sterilisasi ialah mengkoagulasikan protein-protein mikroba dan menginaktifkannya secara searah tak terbalikkan. Proses sterilisasi dapat berjalan dengan baik jika di dalam autoklaf hanya terdiri aras uap air saja tanpa ada udara. Oleh karena itu, udara yang ada di dalam autoklaf harus dikeluarkan dahulu.Setelah di dalam autoklaf tidak ada udara lagi, uap air dibiarkan mengisi ruangan sampai suhu mencapai 12l° C. Setelah suhu tersebut tercapai masih diperlukan waktu antara 11-12 menit untuk mematikan endospora bakteri yang tahan panas.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam sterilisasi antara lain kepadatan muatan, volume cairan, dan ukuran wadah yang dipakai. Umumnya bahan yang memakan tempat dan mendekati kedap air memerlukan pemanasan lebih lama.Volume media di dalam botol atau labu jangan sampai melebihi dua pertiga tinggi tinggi wadah.Wadah sterilisasi yang berukuran kecil semakin baik digunakan. Sebagai contoh jika ingin mensterilkan lima liter media lebih baik menggunakan lima labu yang masing-masing berisi satu liter media daripada menggunakan satu labu yang berisi lima liter media. Volume yang lebih kecil memerlukan waktu sterilisasi yang lebih pendek.Jadi, lamanya siklus sterilisasi harus disesuaikan dengan ukuran dan jumlah wadah.Hal yang harus diperhatikan pula yaitu botol tidak boleh disumbat terlalu ketat sehingga kedap udara.Untuk menyumbat dapat digunakan kapas yang kemudian dilindungi dengan kertas atau aluminium foil supaya kapas tidak terkena tetesan air sewaktu steriksasi.Apabila perlu, dapat juga digunakan sumbat karet, tutup sekrup, atau tutup plastik.Laju pendinginan dan pembebasan rekanan harus dilakukan dengan perlahan-lahan untuk mencegah pecahnya perangkat kaca pada waktu siklus sterilisasi telah selesai.Untuk itu, suhu di dalam autoklaf harus dibiarkan turun kembali seperti suhu kamar sebelum tutup autoklaf dibuka (Suriawiria, 2005).






BAB III
METODE KERJA

III.1     Alat dan bahan
III.1.1 Alat yang digunakan
1.                  Cawan Petri
2.                  Tabung Reaksi
3.                  Oven
III.1.2 Bahan yang digunakan
1.                  Kapas
2.                  Kertas

III.2    Cara Kerja
1.                   Menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang diperlukan dalam proses sterilisasi.
2.                   Mencuci bersih alat-alat tersebut.
3.                   Alat-alat gelas yang sudah dicuci, dikeringkan terlebih dahulu menggunakan lap, selanjutnya disumbat menggunakan kapas kemudian dibungkus dengan kertas dan  diletakkan dalam rak oven dengan tersusun rapi.
4.                   Setelah pintu oven ditutup dan pengatur suhu ataupun pengatur waktu telah sesuai dengan alat-alat yang disterilkanatur waktu dan suhu oven berkisar antar 1600C-1800c selam 2 jam, segera alat dipasang dan dihidupkan.
5.                   Selama sterilisasi berlangsung lempengan antara ruang dalam oven dengan udara luar(terletak dibagian atas oven) ditutup.
6.                   Setelah temperature suhu tercapai, alat dimatikan, lempengan penutup dibuka sampai temperatur turun yang memungkinkan alat dapat diambil.














BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1     Hasil Pengamatan
Nama alat/bahan
Cara sterilisasi
Waktu sterilisasi
Prinsip sterilisasi
Cawan petri
Menggunakan metode sterilisasi kering yaitu menggunakan oven sebagai alat sterilisasi
Dua jam dengan suhu 160 oC.
Cawan dibungkus dengan kertas yang bersih  kemudian dimasukkan ke dalam oven kemudian dikeringkan dengan suhu 160o C selama dua jam.
Tabung reaksi
Menggunakan metode sterilisasi kering dengan menggunakan oven sebagai alat sterilisasi.
Dua jam dengan suhu 160o C
Tabung reaksi disumbat dengan kapas kemudian dibungkus dengan kertas lalu dimasukkan dalam oven dengan suhu 160oC selama dua jam.

IV.2     Pembahasan
Sterilisasi dalam bidang mikrobiologi merupakan suatu upaya atau metode yang bertujuan untuk membebaskan alat-alat atau bahan/sample secara lengkap dari dekontaminasi segala macam bentuk kehidupan mikroorganisme lain. Sterilisasi yaitu suatu proses atau kgiatan membebaskan alat / media dari mikroorganisme. Preses sterilisasi sangat diperlukan untuk menghilangkan mikroba pada alat dan media yang akan digunakan dalam kerja mikrobiologi.
Sterilisasi ini penting dilakukan dalam praktikum mikrobiologi, hal ini dikarenakan agar bahan atau peralatan yang digunakan tersebut tidak didapatkan kehadiran mikroorganisme lain yang tidak diinginkan yang akan mengganggu atau merusak media ataupun mengganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan sehingga pelaksanaan praktikum dapat berjalan dengan lancar.
Ada beberapa cara di dalam melakukan sterilisasi, yakni sterilisasi secara fisik, sterilisasi secara mekanik dan sterilisasi secara kimiawi namun pada prinsipnya proses sterilisasi mikroorganisme adalah dengan cara pemanasan berulang kali hal ini dimaksudkan  untuk menumbuhkan spora mikroorganisme kemudian memanaskannya kembali agar spora mikroorganisme tersebut mati.
Pada percobaan ini, metode sterilisasi yang dilakukan adalah metode sterilisasi kering dengan menggunakan alat sterilisasi kering yaitu oven.Prinsip kerja dari alat ialah membunuh atau mematikan mikroorganisme yang ada pada alat praktikum yang bahannya terbuat dari gelas,dengan cara memanaskan alat tersebut dengan suhu tinggi yaitu 160-180 oC selama 1-2 jam.
Sebelum melakukan sterilisasi ini terlebih dahulu alat-alat yang akan disterilkan dibungkus dengan kertas untuk melindungi alat dari kontaminasi mikroba lain selama pemanasan berlangsung dan alat-alat seperti tabung reaksi terlebih dahulu disumbat dengan kapas. Tetapi saat penyumbatan sebaiknya jangan terlalu kedap dan tidak boleh terlalu longgar agar pensterilisasian dapat berlangsung dengan sempurna.
Sterilisasi dapat berjalan baik bila mana seorang praktikan sebelumnya telah dibekali dengan pengetahuan mengenai pengenalan alat sehingga pada praktikum ini tujuan sterilisasi dapat tercapai dan peralatan serta bahan yang disterilisasi tersebut tidak rusak dan juga dapat dengan tepat mengambil keeputusan metode sterilisasi yang akan dipakai.






BAB V
PENUTUP
V.1      Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan :
Bahwa kami selaku peraktikan yang melakukan praktikum sterilisasi kering menggunakan oven dapat berjalan dengan baik dengan berbagai langkah-langkah yang di tempuh pada saat melakukan praktikum seperti terlebih dahulu menyiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan setelah itu mencuci bersih sampai sudah terbungkus dengan kertas untuk siap dimasukkan kedalam oven selama 2 jam pada suhu 1600C-1800C.  
V.2      Saran
Adapun saran untuk praktikum selanjutnya ialah agar praktikum teknik proses sterilisasi alat diperbanyak banyak lagi agar dapat diketahui lebih banyak dan juga praktikan dalam melakukan percobaan dalam laboratorium tidak gaduh agar praktikum dapat berjalan lancar.






DAFTAR PUSTAKA
Lay. 1992. Fundamentals Of Microbiology. Saunders CompanyLondon
Lim1998Seminar Pembekalan Etika dan Keselamatan Kerja di Laboratorium, Bagian Kimia Kedokteran Fakultas Kedokteran Unlam. Banjarbaru.

Penn. 1991. Peralatan Laboratorium. PT Gramedia. Jakarta.
R.Pakadang,Sesilia, 2015, Buku Penuntun Pratikum Mikrobiologi Farmasi, Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar

Suriawiria.2005. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT Gramedia. Jakarta.
Sutedjo. 1991. Mikrobiologi Dasar. Gramedia Pustaka UtamaJakarta.
Volk & Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar. Penerbit ErlanggaJakarta.
Waluyo1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. DjambatanJakarta.


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda